Senin, 07 September 2009

Nasihat Ali Bin Abi Thoib Kepada Anaknya Hasan
Hai anaku, jagalah empat dari yang empat perkara,
yang tidak akan membahayakanmu selama kamu mengamalkannya.
Sebaik-baiknya kekayaan adalah akal,
Seburuk-buruknya kefakiran adalah kebodohan,
Sejelek-jeleknya kedengkian adalah kesombongan
dan seagung-agungnya perbuatan adalah akhlak mulia.

Hai anaku,jauhilah pergaulan dengan orang bodoh,
karena ia akan memanfaatkan dan membahayakanmu.
Jauhilah orang bakhil karena ia akan menjauhkan dari hajatmu.
Jauhilah penzina, karena akan menjualmu dengan murah,
dan jauhilah pendusta,karena ibarat fatamorgana, ia menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SELAMAT DATANG

silahkan masuk mungkin untuk memanfaatkan apa yang ada

Sedikit Bicara Banyak Bekerja

Kalimat dalam judul ini seringkali kita dengar, dan bahkan akhir-akhir ini digunakan sebagai iklan hingga gampang kita temukan di pingir-pinggir jalan. Rasanya memang seperti benar dan berlaku untuk semua orang. Kalimat itu memberikan peringatan agar kita semua supaya menghemat bicara dan sebaliknya memperbanyak kerja. Jika hal itu dipedomani, akan menjadi lebih baik. Dalam kajian Islam juga disebutkan konsep bahwa salah satu akhlak yang kurang terpuji adalah katsrotul kalam, atau banyak bicara. Memperbanyak bicara tergolong akhlak yang kurang baik, oleh karena itu harus dihindari. Dalam suatu hadits Nabi dikatakan bahwa siapa saja yang banyak bicaranya maka akan banyak kesalahannya, dan barang siapa yang banyak kesalahannya maka nerakalah tempatnya. Hadits ini memperingatkan agar kaum muslimin mengurangi banyak bicara. Namun dalam kehidupan sehari-hari, apalagi pada zaman modern seperti sekarang ini, banyak muncul profesi yang memang tugasnya adalah berbicara. Seorang penyiar televisi atau radio, motivator, mubaligh, guru, politikus yang duduk dalam parlemen, dan semacamnya, tugas mereka sehari-hari adalah berbicara. Tidak akan mungkin seorang penyiar atau juru penerang, tidak banyak bicara. Tugas atau pekerjaan mereka sehari-hari adalah berbicara. Demikian pula seorang mubaligh, guru, dosen, dan apalagi anggota DPR, mereka harus banyak berbicara. Mereka dipilih menjadi anggota DPR, di antaranya adalah agar mereka bericara. Ada profesi tertentu yang justru mengharuskannya agar banyak berbicara dan juga menulis. Seorang wartawan dan juga dosen misalnya, jika tidak menulis maka akan disebut sebagai wartawan atau dosen malas dan tidak produktif. Sebagai dosen jika tidak bisa berbicara di depan ruang kuliah, atau menulis artikel, buku, atau hasil penelitian, maka mereka tidak akan dianggap memenuhi kewajibannya, hingga salah satu akibatnya tidak akan naik pangkat. Bagi orang-orang tertentu, berbicara dan menulis adalah menjadi kewajiban dan harus dilakukan sehari-hari. Bagi mereka itu, berbicara dan menulis adalah merupakan bentuk pekerjaan mereka. Sehingga terhadap mereka yang berprofesi sejenis itu, kalimat yang mungkin lebih tepat adalah berbicara dan menulislah sejelas-jelasnya dan mungkin juga sebanyak-banyaknya. Karena tugas dalam hidup mereka adalah menulis dan berbicara. Memang benar, bagi profesi tertentu seperti pegawai kantor, pelayan restoran, pegawai pabrik, petani, polisi, tentara, nelayan, dan masih banyak lagi semacam itu lainnya, tidak boleh banyak bicara. Pekerjaan mereka bukan berbicara, tetapi menyelesaikan sesuatu yang tidak memerlukan banyak pembicaraan. Namun sebaliknya, sekalipun mirip dengan itu, misalnya pedagang, juru penerang, atau penasehat, dan semacamnya, mereka memerlukan banyak bicara. Misalnya seorang pedagang, jika mereka diam saja, maka dagangannya tidak akan dikenal banyak orang dan sebagai akibatnya tidak laku. Dari uraian singkat dan contoh-contoh di muka memberikan pengertian, bahwa ternyata berbagai jenis profesi selalu menuntut cara pemenuhan yang berbeda-beda. Profesi tertentu menuntut sedikit bicara, sedangkan profesi lain justru sebaliknya, harus banyak berbicara. Dosen atau wartawan misalnya, dituntut harus banyak menulis. Tetapi sebaliknya, pegawai kantor yang bertugas menyelesaikan administrasi dan juga dokter yang harus memeriksa pasien, jika banyak bicara, maka pekerjaan mereka akan terbengkalai. Sehingga memang, dalam kehidupan sehari-hari, tidak selalu bisa dilihat dan diberlakukan secara umum. Cara yang terbaik adalah harus dilihat dan didekati secara proporsional. Sehingga, hadits nabi yang disebutkan di muka, supaya selalu menjaga diri dari apa yang disebut sebagai katsrotul kalam, bisa dipahami sebagai upaya agar kita tidak berlebih-lebihan dan juga proporsional. Apapun yang berlebih-lebihan atau bahkan keterlaluan, akan mengganggu obyektivitas dan keseimbangan, sehingga yang demikian itu memang tidak boleh dilakukan. Wallahu a’lam. UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 08 Agustus 2009

Bicara dan Kerja

Dulu ,ketika kita masih kecil,masih kanak,kanak, masih belum sepintar ini,lebih banyak diam.Yang banyak bicara cuma nenek yang suka bercerita.tapi OK waktu itu banyak kerja yang dapat diseleseikan dengan baik,gotong royong dalam kebersamaa. Jalan desa yang sunyi membawa kedamaian yang alami, semua orang merasa tentram dan bahagia, biar hidup sederhana bahkan biar miskin.

Sekarang kita udah gede dan makin pintar, merasa mesti lebih banyak bicara, Kata-kata nenek dianggap sudah terlalu basi dan nenek tidak bercerita lagi. Kita merasa sudah dapat mengatasi semua hal sendiri melalui seperangkat pemikiran yang dikenal berdasarkan analisa rasional,didukung teknologi canggih.Tapi ternyata, tampaknya persoalan yang muncul semakin berjubel-jubel.

Tapi kita jangan hilang akal, karena ilmu yang telah kita cari dan telah kita miliki akan memberikan solusi untuk memecahkan persoalan yang timbul sebegitu itu. Ada berbagai upaya, Seminar,Penatara, Diklat Loka karya, , penelitian dll. pokonya banyak. semua orang mau dan bisa bicara. Mengapa ini begitu dan tidak begini. Maka bertolak dari ini itu, kita harus dapat membuat yang ini dan bukan yang itu. semua baik dalam pembicaraan, tentu.

Demikian Sampai pada fasal pelaksanaannya, ternya tidak seperti yang dibicarakan, ao direncanakan. Jelasnya kita kurang mampu apa yang telah kita teorikan, dan akuilah dalam praktek kita masih rendah.kuarang optimal. Orang awam bilang " Ngomomg aja gede"

Kita memang terlalu banyak bicara, lupa diam,lupa kerja, tidak seperti yang kita bicara. Dan ini lagi, kita mau bekerja tak cukup punya kehendak untuk milai, untuk melanjutkan,untuk menyelesaikan. Dari seorang pakar penulis pasti belum salah ketika dia mengatakan bahwa salah satu ciri dari kita adalah lemah kehendak, tidak punya kebulatan tekad untuk melaksanakan apa yang di omongkan.

Masih herankah kita, ketika semua rencana tersusun rapi, semua kemungkinan sudah diperhitungkan secara ilmiah dan matematis, ternyata masih ada yang melenceng dari harapan, tak dapat diselesaikan dengan baik.

Rupanya proses menimba ilmu dari mereka yang kita anggap sudah lebih pandai, kita tidak bisa cuma transper ilmunya, tapi juga mentang yang mendukung keberhasilan ilmu itu

Mari, Kita Bicara, Mari Kita Bekerja, Mari ita evaluasi dan mari kita tunjukan hasilnya.